Munculnya agama Islam di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh
persentuhan kebudayaan antara daerah Nusantara dengan negara yang
membawa pengaruh Islam. Persentuhan kebudayaan ini terjadi sebagai salah
satu akibat dari hubungan yang dilakukan antara orang-orang Islam
dengan orang-orang yang ada di Nusantara. Sebab, daerah Nusantara
merupakan jalur perdagangan strategis yang menghubungkan antara dua
negara, yaitu Laut Tengah dan Cina. Hubungan perdagangan yang semakin
lama semakin intensif menimbulkan pengaruh terhadap masuknya
pengaruh-pengaruh kebudayaan Arab, Parsi, India, dan Cina di Nusantara.
Dengan kata lain, terjadilah proses akulturasi antara kebudayaan
negara-negara itu dengan kebudayaan Nusantara.
A. NUSANTARA SEBELUM KEDATANGAN ISLAM
Proses
islamisasi yang terjadi di Indonesia sangat ditentukan oleh kondisi
sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang ada sebelumnya.
Secara
geografis wilayah Nusantara memiliki arti yang sangat penting bagi
masuknya unsurunsur dari luar, karena menjadi jalur lalu lintas
perdagangan internasional. Dengan terbukanya wilayah Nusantara
memungkinkan masyarakatnya untuk berinteraksi dengan bangsa lain.
1. Kondisi sosial budaya
Sebelum
ditemukannya mesin yang menggerakkan kapal laut, pelayaran kapal-kapal
lebih ditentukan oleh arus angin. Sistem angin di kepulauan Nusantara
yang dikenal sebagai angin musim (angin muson), memberikan kemungkinan
pengembangan jalan pelayaran Barat-Timur pulang balik secara teratur dan
berpola tetap. Musim barat dan musim timur sangat menentukan munculnya
kota-kota pelabuhan serta pusat-pusat kerajaan sejak aman Sriwijaya
sampai akhir Majapahit.
Kehidupan di kota pelabuhan menampakkan
suatu kehidupan yang dinamik. Interaksi manusia melalui perdagangan di
kota pelabuhan dapat menciptakan unit-unit kehidupan manusia. Interaksi
antara unit-unit akan membangun struktur sosial yang dinamik, sehingga
akan menampakkan adanya suatu perubahan.
Masyarakat di kota
pelabuhan merupakan masyarakat yang urban dan kosmopolit. Terciptalah
suatu tatanan masyarakat kota. Interaksi tidak hanya terbatas pada
pertukaran barang-barang ekonomi, akan tetapi terjadi pula interaksi
budaya antarkelompok masyarakat. Dengan demikian, kehidupan masyarakat
di kota pelabuhan akan menciptakan suatu masyarakat yang terbuka.
Dalam
masyarakat yang seperti ini, akan memudahkan masuknya unsur budaya dari
luar. Apabila unsur budaya itu mampu membangun suatu tatanan kehidupan
yang mapan, maka akan menjelma menjadi suatu peradaban.
Sebelum
kedatangan Islam di wilayah Nusantara, peradaban yang pernah muncul dan
mampu membangun suatu struktur masyarakat yang mapan yaitu Hindu-Buddha.
Peradaban Hindu-Buddha sangat berpengaruh pada pembentukan struktur
masyarakat di Nusantara. Masyarakat yang dibentuk dalam peradaban ini
adalah masyarakat yang memiliki struktur hierarkis. Dalam masyarakat
seperti ini, terdapat lapisan-lapisan sosial yang sangat ketat.
Masyarakat terbagi atas kasta yaitu kasta Brahmana, Ksatria, Waisya dan
Sudra. Hubungan antarkasta ini bersifat vertikal yang sempit, artinya
interaksi antarindividu hanya terjadi pada kelompok kastanya sendiri.
Sebagai contoh seorang kasta Ksatria tidak bisa menikah dengan seseorang
yang berasal dari Kasta Waisya.
Dalam konsepsi Hindu-Buddha,
hubungan antara manusia dan jagad raya bagaikan hubungan kesejajaran
antara makrokosmos dan mikrokosmos. Manusia adalah mikrokosmos dan jagad
raya adalah makrokosmos. Menurut kepercayaan ini, manusia senantiasa
berada di bawah pengaruh tenaga-tenaga yang bersumber pada penjuru mata
angin, bintang-bintang dan planet-planet. Tenaga-tenaga ini mungkin
menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan atau berakibat kehancuran.
Terjadinya kesejahteraan atau kehancuran tergantung pada dapat tidaknya
individu-individu dan kelompok-kelompok masyarakat terutama sekali
negara, berhasil menyelaraskan kehidupan dan kegiatan mereka dengan
jagad raya. Keselarasan antara kerajaan dan jagad raya dapat dicapai
dengan menyusun kerajaan itu sebagai gambaran sebuah jagad raya dalam
bentuk kecil.
Penguasa makrokosmos adalah Dewa, sedangkan
penguasa mikrokosmos adalah raja, sehingga lahirlah konsep dewa-raja.
Raja adalah wakil dewa di muka bumi. Kedudukan raja dianggap sebagai
titisan (inkarnasi) dari dewa atau sebagai keturunan, atau sebagai
kedua-duanya, baik sebagai penitisan maupun keturunan dewa.
Raja
memiliki kedudukan yang sangat sentral. Hubungan antara raja dengan
rakyat membentuk struktur yang patrimonial. Dalam hubungan ini tercipta
hubungan kawula dan gusti. Rakyat lebih banyak melakukan kewajibannya.
Pemikiran
konsep ini tidak memungkinkan adanya suatu bentuk perjanjian sosial
(social contract) atau konsep mengenai kewajiban-kewajiban timbal balik
antara atasan dan bawahan.
b. Kondisi politik dan ekonomi
Pada
abad ke-7 sampai dengan abad ke-12, Sriwijaya mengalami masa kejayaan,
baik dalam bidang politik maupun ekonomi. Kejayaan yang dialami
Sriwijaya sangat ditentukan oleh letak dari kerajaan Sriwijaya sebagai
kerajaan maritim. Sriwijaya merupakan bagian dari jalur perdagangan
internasional.
Sebagai pelabuhan, pusat perdagangan, dan pusat
kekuasaan, Sriwijaya menguasai pelayaran dan perdagangan di bagian barat
Indonesia. Sebagian dari Semenanjung Malaya, Selat Malaka, Sumatra
Utara, Selat Sunda yang kesemuanya masuk lingkungan kekuasaan Sriwijaya.
Sriwijaya sebagai pusat perdagangan dikunjungi oleh pedagang dari
Parsi, Arab dan Cina yang
memperdagangkan barang-barang dari
negerinya atau negeri yang dilaluinya, sedangkan pedagang Jawa
membelinya dan menjual rempah-rempah.
Memasuki abad ke-13,
Sriwijaya menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Kekayaan alamnya sudah
tidak lagi menghasilkan, kalah dengan hasil kekayaan di Jawa. Untuk
menanggulangi ini, Sriwijaya menerapkan bea cukai yang mahal bagi
kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhannya, bahkan memaksa agar
kapal-kapal asing berlabuh di pelabuhannya. Tindakan Sriwijaya ini
ternyata tidak memberikan keuntungan bagi kerajaannya, justru
sebaliknya.
Kapal-kapal asing mencoba menghindar untuk berlabuh
di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya. Kemunduran Sriwijaya diperburuk lagi
oleh serangan Kerajaan Singhasari dari Jawa melalui ekspedisi Pamalayu.
Dengan Pamalayu, supremasi Kerajaan Singhasari dapat diletakkan di bekas
daerah pengaruh Sriwijaya di Sumatra.
Setelah Singhasari
berkuasa, kemudian muncul Majapahit sebagai kekuatan kerajaan yang
memiliki pengaruh yang sangat besar. Kemunculan Majapahit ini semakin
memperlemah kedudukan Sriwijaya.
Majapahit pernah tampil sebagai
supremasi kekuasaan di wilayah Nusantara, setelah Sriwijaya runtuh.
Kejayaan Kerajaan Majapahit dialami pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk
dengan patihnya yang terkenal yaitu Gajah Mada. Dengan Sumpah
Palapanya, Gajah Mada melakukan perluasan wilayah. Majapahit kemudian
mengalami kemunduran yang lebih banyak disebabkan
oleh adanya konflik internal. Pada tahun 1478, Majapahit mengalami keruntuhannya.
Peradaban
Hindu-Buddha sangat berpengaruh pada pembentukan struktur masyarakat di
Nusantara. Masyarakat yang Hinduistis merupakan masyarakat dengan
struktur yang hierarkis, artinya masyarakat yang mengenal kasta, yaitu
kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Hubungan antarkasta ini
bersifat vertikal yang sempit, artinya interaksi antar individu hanya
terjadi pada kelompok kastanya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar